Sabtu, 06 Oktober 2007

Hati-hati DBD!!

Belakangan kasus DBD atau demam berdarah dengue memang sudah jarang terdengar dibandingkan beberapa bulan yang lalu. Tapi jangan salah duga bahwa penyakit ini masih awam dijumpai di masyarakat kita. Bila kita tidak awas, gejala awal yang hanya tampak sebagai panas biasa, bisa dalam waktu singkat merubah kondisi penderita menjadi pesakitan yang bisa jatuh pada kondisi syok. Dan jika hal ini tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin berakibat fatal.
DBD merupakan penyakit demam akut (berlangsung cepat) yang disebabkan oleh virus Dengue. Virus ini disebarkan pada manusia oleh nyamuk Aedes aegepty, itulah sebabnya penyakit ini disebut sebagai Arthropode-borne disease. Virus ini mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah dan merusak sistem pembekuan darah. Masa inkubasi virus ini antara 3-15 hari, artinya dalam rentang waktu itu virus mulai berkembang biak di dalam tubuh dan bisa jadi penderita belum merasakan gejala apapun.
Gejala awal yang muncul adalah panas yang secara berangsur namun cepat bertambah tinggi. Temperatur anak bisa mencapai 38- 40 derajat celcius yang dapat disertai dengan sakit kepala berat, sakit pada sendi dan otot. Karena sifatnya yang merusak pembuluh darah dan sel-sel darah merah, sehingga jumlah trombosit (butir-butir sel darah merah) dalam sirkulasi akan turun yang mengakibatkan mudahnya terjadi perdarahan. Tanda perdarahan yang tampak dapat berupa bintik-bintik merah di permukaan kulit (ruam) yang menandakan perdarahan perifer, perdarahan dari hidung (mimisan), mulut dan dubur. Pada kondisi yang lebih parah, perdarahan juga akan terjadi dalam organ tubuh yang lain, misalnya dimanifestasikan dengan muntah darah karena perdarahan lambung dan sebagainya. Radang perut (mual, muntah atau diare) juga dapat terjadi.
Pasien dengan kondisi seperti ini sangat riskan mengalami dehidrasi yang kemudian mengakibatkan jatuh pada kondisi syok hipovolumik dimana volume atau jumlah darah yang berfungsi membawa oksigen untuk tubuh sangat berkurang. Kondisi ini disebut sebagai Dengue Syok Syndrome (DSS). Untuk itu, apabila ada kecurigaan anak terserang DBD, maka sebaiknya segera dibawa ke RS untuk mencegah terjadinya syok.
Penyakit ini dapat dideteksi dengan pemeriksaan darah berupa hitung darah lengkap, analisis rutin, pemeriksaan serologis dsb. Pemeriksaan juga harus ditunjang dengan pemeriksaan klinis penderita mengenai tanda dan gejala perdarahan, dehidrasi maupun syok.
Bagian terpenting dari pengobatannya adalah terapi suportif. Penanganan awal bertujuan untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh yang banyak berkurang karena kehilangan yang diakibatkan oleh meningkatnya suhu tubuh dan juga muntah atau perdarahan sehingga anak tidak sampai pada kondisi dehidrasi. Demam dapat diturunkan dengan pemberian kompres hangat sampai dingin tetapi tidak dianjurkan dengan kompres es apalagi alkohol. Penderita juga perlu disarankan untuk menjaga asupan makanan terutama cairan spt pemberian minum 1,5–2 liter dalam 24 jam (air teh dan gula, sirup atau susu).
Terapi cairan intravena atau infus diberikan sesuai indikasi untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi. Transfusi platelet atau plasma atau Plasma expander atau preparat hemasel dilakukan jika jumlah platelet menurun drastis. Penanganan selanjutnya bertujuan untuk mengatasi infeksi virusnya. Antibiotik diberikan apabila terdapat infeksi sekunder.
Sampai dengan saat ini, tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk virus demam berdarah. Untuk itu, perlu upaya pencegahan di lingkungan seperti a) menghindari gigitan nyamuk, b) Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) atau 3M minimal 1x dalam seminggu:
· Menguras bak mandi dan atau tempat penampungan air jernih/ bersih.
· Membersihkan lingkungan dari wadah (tempat2 yang bisa menampung air hujan) yang berserakan, misalnya : gelas aqua, kaleng bekas, dsb.
· Menutup rapat penampungan air jernih yang ada di rumah tangga, agar tidak dijadikan tempat bertelur nyamuk.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Wah bagus mbak artikelnya, tapi judulnya kok BDB. kenalan ya aku hanif 2003 mbak.

health-wave mengatakan...

Halo Hanif, salam kenal..
Wah udah lama banget ndak tengok blog ini.
Makasih ya reviewnya. Udah diralat judulnya meski belum review lagi artikelnya.